Monday, March 20, 2006

Hakekat Konflik :
Model Penyelesaian Dan Hasil Akhir Konflik


Setiap model penyelesaian mempunyai dampak yang berbeda terhadap hasil akhir yang dicapai. Setiap model penyelesaian akan tepat digunakan dengan terpenuhinya persayarata situasi dan kondisi.

Competitive style :
Model ini lebih menitik beratkan pada mendapatkan hasil atau keuntungan sendiri dan mengabaikan kepentingan, hasil dan keuntungan orang lain. Hubungan antar dengan pihak lain tidak menjadi penting. Memfokuskan pada bagaimana memenangkan sengketa atau konflik dari pada mencari solusi yang tepat untuk semua pihak. Kepercayaan antar para pihak tidak terbangun dengan baik, komunikasi tidak berjalan secara timbal balik dan seimbang. Dikarenakan kepentingan yang berbeda menjadikan para pihak berfikir untuk tidak mengatakan yang sebenarnya dalam berkomunikasi. Para pihak akan memulai segala sesuatunya dengan perspektif negatif terhadap pihak lawan. Dan karenanya sering terjadi salah mengartikan informasi antara para pihak. Bagi pihak yang merasa dalam posisi benar dan kuat akan berusaha menekan pihak lawan, dan sering disertai pihak lain akan bertahan dengan kemauannya.

Model ini akan tepat digunakan pada :
1. pada kondisi darurat, kebutuhan akan keputusan yang cepat atas sesuatu yang sangat fital.
2. pada saat kita memiliki informasi yang lebih banyak dan sumber daya yang lebih, serta keahlian.
3. mengambil tindakan untuk mencegah terhadap pihak lain yang mengambil keuntungan dari kondisi yang ada.
4. ketika kita harus bertanggungjawab untuk menyelesaiakan masalah dengan keputusan yang tidak populer yang harus dilakukan.

Kerugian yang didapat dari model ini adalah :
1. Akan menciptakan ’yes’ men and women
2. Menghentikan pencarian sesuatu pendekatan baru untuk penyelesaian konflik
3. Merusak hubungan personal antar para pihak
4. Merupakan penyelesaian yang bersifat sementara

Acommodating style
Model ini merupakan lawan dari conpetitive style, yang artinya lebih menitik beratkan pada pencapaian kepentingan dan tujuan pihak lain, dan kita sendiri mengabaikan kepentingan dan tujuan kita. Menekankan dan mementingkan pada hubungan antar para pihak yang bersengketa. Dengan menggunakan model ini kita percaya bahwa pihak lain akan lebih terbuka dan jujur tentang tujuan dan kepentingan kita bersama.

Kapan model ini cocok digunakan ?
1. ketika hubungan antar para pihak lebih penting dari tujuan dan kepentingan kita.
2. ketika kita merasa isu yang ada lebih penting untuk orang lain dari pada kita.
3. ketika hal ini dianggap sebagai strategi untuk mencegah kerugian yang lebih besar di masa datang dan kemenangan di masa mendatang.
4. ketika seseorang merasa dirinya salah
5. untuk menbuat sosial keredit (hutang budi)
6. untuk menjaga keselarasan hubungan dan mencegah kekacauan.

Kerugian menggunakan model ini :
1. penggunaan model ini untuk jangka waktu yang lama dengan mengingkari pemecahan issu dengan cepat memeberikan maaf serta dan menerima kepentingan orang lain, maka masalah kita tidak akan pernah hilang dan akan terus berlanjut.
2. membatasi daya cipta bentuk penyelesaian lain.


Avoiding style
Pada model ini ditandai karakteristik dengan rendahnya akan kepentingan dan tujuan yang hendak diraih, demmikian juga dalam hal hubungan antar pihak.

Kapan model ini tepat dipakai ?
1. pada saat kita berfikir bahwa issu akan menghilang dan berubah sesuai perubahan waktu.
2. pada saat kita mempertimbangkan kita akan mendapatkan kerugian yang lebih jika kita melakukan konfrontasi dengan pihak lain.
3. terkadang kita memutuskan untuk menunda konflik karena kita ingin keuntungan yang lebih dengan waktu (mengumpulkan informasi yang lebih, atau untuk mempersiapkan yang lebih untuk konflik, dan untuk mendinginkan emosi dan cool down)
4. terkadang kita berfikir bahwa situasi yang ada tidak serius dan cukup untuk melakukan konfrontasi, atau antar pihak beranggapan bahwa issu yang minim dan tidak penting (spele).
5. tidak ada peluang untuk menang

kerugian dari model ini adalah :
1. membatasi input dalam penyelesaian masalah
2. penyelesaian yang bersifat sementara
3. kegagalan dalam mengambil keputusan untuk issu-issu yang penting, dengan mengabaikan issu yang sepele.


Compromising style
Dalam model penyelesaian sengketa seperti ini maka hasil akhir yang akan di dapat adalah setiap pihak mendapatkan bagian kalah dan bagian menang ( minim win/minim lose). Biasanya digunakan dalam hal ekonomi dan perdagangan dan mengenai hal-hal yang dapat dibagi. Penggunaan model ini akan menunjukan bahwa kita tidak hanya mementingkan kepentingan dan tujuan kita, namun juga memelihara hubungan antar para pihak.

Model seperti ini akan cocok dipakai pada saat :
1. apabila persaingan antar para pihak dapat membuat kerusakan hubungan personal antara mereka, dan berfikir bahwa hubungan antar para pihak dilakukan untuk jangka waktu yang lama.
2. ketika pihak lawan kita memiliki kedudukan, kekuatan dan sumberdaya yang sama dengan yang kita miliki.
3. ketika kondisi menunjukan bahwa tidak ada satu pihakpun yang akan menang.
4. ketika kita berfikir pihak lain dapat menyelesaian konflik dengan lebih baik.

Kerugian dari penggunaan model ini :
1. penyelesaian bersifat sementatara
2. hanya bisa dipakai untuk issu yang tidak complex.

Colaborating style
Penggunaan model ini menunjukan akan adanya porsi yang sama penting akan kepentingan dan tujuan yang ingin dicapai dengan hubungan personal atar pihak pada saat yang bersamaan. Ini merupakan model penyelesaian sengketa atau konflik yang paling bagus, namun sulit untuk mencapainya dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Komunikasi atar para pihak berjalan konstruktif dan mendukung akan hasil akhir dari penyelesaian sengketa. Hasil akhir yang didapat oleh para pihak lebih dari apa yang diharapkan dan luar biasa, ”kue” yang dibagi lebih besar dari obyek awal yang disengketakan. Eksplorasi atas permasalahan yang ada akan maksimal. Kedua belah pihak berkeinginan besar untuk menyelesaiakan sengketa atau konflik, agenda tersembunyi, kepercayaan yang hancur akan mengarah pada kejujuran antar para pihak dan inisemua menjadi bagian dari model colaborating. Penyelesaian akan konflik atau sengketa tidak hanya menyangkut isu-isu yang muncul di permukaan tapi sampai pada ekplorasi pada akar permasalahan atau sumber senketa atau konflik. Penghargaan dan empati terhadap lawan muncul dengan komunikasi yang konstruktif. Dan pada akhirnya akan membuat ”keterbukaan dan kreatifitas” dalam penyelesaian sengketa atau konflik. Model penyelesaian seperti ini menutup ruang untuk menculnya kekerasan baik lansung maupun tidak langsung. Karena ruang dialektika untuk pencatapian penyelesaian sengketa terbuka luas dan partisipatif memberikan kesepatan yang sama kepada para pihak.

Model penyelesaian sengketa/konflik seperti ini cocok dipakai pada :
1. ketika kita berfikir bahwa sama-sama penting dalam mendapatkan hasil, dan menjaga hubungan anatar para pihak.
2. ketika penting untuk mencari dan menyelesaikan akar/sumber konflik yang masih ada dalam jangka waktu yang lama, yang dapat merintangi hubungan antar para pihak di masa mendatang.
3. ketika konflik/sengketa yang ada sangat konpleks, melibatkan banyak kepentingan dan banyak pihak.

Kerugian yang di dapat dalam memakai model ini adalah :
1. memerlukan waktu penyelesaian yang panjang
2. membutuhkan tekanan yang lebih dalam hal membangun kepercayaan antar para pihak yang sedang berkonflik.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home